Keseharian dan Kebaruan

Hanson E. Kusuma | SAPPK | ITB | hekusuma(at)gmail.com

Pada majalah Kalawarta edisi Desember 2014, telah dibahas tentang Kompleksitas, yang merupakan salah satu kriteria preferensi terhadap estetika yang disebutkan oleh Berlyne (1960), selain kebaruan (novelty), keganjilan (incongruity), dan keterkejutan (surprisingness). Pada artikel ini, akan dibahas salah satu kriteria preferensi yang lain, yaitu kebaruan.

Kebaruan dan preferensi

Mengapa kebaruan cenderung disukai? Dalam buku Environmental Psychology yang ditulis oleh Bell, Fisher, Baum dan Greene (2005), dinyatakan bahwa dibandingkan ‘binatang’ yang lain, manusia paling lemah dalam berlari, payah dalam berenang, dan tanpa bantuan alat tidak dapat terbang. Kelebihan manusia dibandingkan dengan yang lain adalah kemampuan berpikir. Mengolah informasi dengan berpikir akan memberikan kesenangan bagi manusia (seperti main catur, tenis, ataugame yang lain). Selain itu, mewarisi kebiasaan nenek-moyang untuk bertahan hidup, manusia juga menikmati kegiatan menyusun strategi dan mengejar target dalam berburu. Mendapatkan sesuatu yang baru dan menjalani proses mendapatkan yang baru, memberikan kesenangan dan disukai oleh manusia.

Kebaruan dalam lingkungan restoratif

Kesenangan terhadap kebaruan, berlaku pada berbagai ranah. Kebaruan bukan hanya menjadi kriteria preferensi terhadap estetika, tetapi juga kriteria lingkungan restoratif. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dengan istilah kebaruan, Kaplan (1995) menyampaikan bahwa kebaruan merupakan salah satu kriteria dari lingkungan yang restoratif. Yang dimaksud dengan lingkungan yang restoratif di sini adalah lingkungan yang dapat mengurangi kelelahan fisik atau mental temporer yang disebabkan oleh kejenuhan pada kegiatan keseharian yang dilakukan terus-menerus (voluntary/directed attention fatigue). Kaplan menyebutkan empat kriteria lingkungan yang restoratif: pesona (fascination), pembedaan dengan keseharian (being away), keluasan/kelengkapan untuk eksplorasi (extent), dan kesesuaian dengan tujuan atau minat (compatibility). Artikel ini hanya membahas being away, salah satu dari empat kriteria yang berhubungan erat dengan kebaruan.

Kaplan menjelaskan bahwa pada saat lelah secara fisik ataupun mental, seseorang cenderung menjauhi tempat yang sehari-hari yang dialami atau kegiatan yang sehari-hari dikerjakan. Tempat atau kegiatan keseharian yang menjadi sumber kelelahan dihindari, tempat yang berbeda didatangi, dan kegiatan yang berbeda dilakukan. Tempat baru dan kegiatan baru yang berbeda dengan keseharian, menurut Kaplan sangat esensial kehadirannya untuk tujuan restoratif. Tetapi, kebaruan tempat dan kegiatan saja tidak cukup. Kebaruan tempat dan kegiatan akan sia-sia jika apa yang dipikirkan tetap yang ‘lama’. Agar kelelahan berkurang, dibutuhkan tempat baru, kegiatan baru, dan juga pemikiran baru.

Relativitas kebaruan

Sebenarnya, yang seperti apakah dapat disebut kebaruan? Sesuatu dikatakan memiliki kebaruan, apabila berbeda dengan yang keseharian. Bagi seseorang yang tinggal di pegunungan; bukit, lembah, sungai, dan kawah merupakan keseharian, tetapi pantai dan laut merupakan kebaruan. Bagi seseorang yang tinggal di desa, gedung-gedung tinggi dan kemewahan pusat perbelanjaan terlihat berbeda dan sangat menarik perhatian. Sebaliknya, bagi yang tinggal di kota, hamparan sawah nan luas, pemandangan berbukit dan berlembah yang khas suasana pedesaan merupakan jeda yang diidamkan di akhir pekan. Kebaruan bersifat relatif, tergantung pada keseharian seseorang.

Kebaruan membentuk identitas

Rumah-rumah di Bali dengan tiang kayu, dinding bata atau bambu, atap alang-alang, ornamen ukiran, dan elemen arsitektural lainnya, terlihat berbeda bagi turis dari mancanegara. Lingkungan buatan ataupun alami, makanan, tarian, bahasa, dan lain sebagainya yang ada di Bali, yang merupakan keseharian dan terlihat biasa bagi penduduknya, terasa sebagai kebaruan bagi turis. Perwujudan budaya Bali dalam lingkungan dan kehidupan masyarakatnya, menciptakan identitas yang membedakan Bali dengan tempat lainnya. Identitas tempat merupakan keseharian bagi penduduknya dan kebaruan bagi pengunjungnya. Kemiripan ciri-khas dari satu tempat dengan tempat lainnya, melunturkan identitas tempat, dan akibatnya akan mengurangi kemungkinan pertemuan dengan kebaruan yang dicari oleh turis pada saat melancong ke tempat yang berbeda dengan kesehariannya.

Masih terkait dengan identitas, pada ranah perancangan, kebaruan tidak hanya mempengaruhi identitas tempat tetapi juga misalnya identitas perancang (seperti arsitek, desainer produk, perancang busana, dll). Perancang yang diakui dan ternama biasanya adalah perancang yang memiliki ciri-khas kuat pada rancangannya. Rancangannya berbeda dengan rancangan lain dan memiliki kebaruan yang ‘ditemukan’ oleh sang perancang. Arsitek yang ternama seperti Frank Gehry, Tadao Ando, Zaha Hadid, Rem Koolhaas, Kengo Kuma, dan lain-lain, menyajikan kebaruan pada rancangannya. Rancangan mereka bukan sekedar indah dan meniru yang dibuat oleh arsitek lain. Rancangan yang mereka ciptakan, ‘baru’ dalam konteks masanya masing-masing. Kebaruan dalam rancangan mereka, menjadi identitas mereka.

01 William Suyoto Design 201402 William Suyoto Design 201403 William Suyoto Design 2014

Gambar 1, 2 dan 3 (di atas). Spinning Office Tower rancangan arsitek William Suyoto. Kebaruan dalam desain hasil optimasi perencanaan blok massa, struktur dan shading fasade, serta hasil perhitungan OTTV dan pemilihan jenis kaca untuk enclosure bangunan. Pendekatan parametrik digunakan untuk optimasi pengambilan keputusan perancangan. Desain dan gambar ©William Suyoto.

Kebaruan dan kreativitas

Dalam ranah perancangan, kreativitas merupakan wacana yang nggak-ada-matinya. Dalam proses pendidikan menjadi perancang ataupun dalam praksis sebagai perancang, kreativitas sangat diagungkan. Perancang dituntut untuk menciptakan karya-karya baru dan memiliki kebaruan. Karya yang baru dapat berupa karya yang belum pernah ada, dan diciptakan menjadi ada tetapi gagasan-gagasan perancangannya didominasi oleh gagasan yang mengikuti preseden, sehingga perwujudannya dianggap mirip atau tipikal dengan presedennya. Karya yang memiliki kebaruan, bukan sekedar menciptakan yang belum pernah ada menjadi ada, tetapi gagasan-gagasan perancangannya berbeda dengan yang tipikal, sehingga perwujudannya tidak mengikuti yang tipikal. Kebaruan bukan sekedar baru yang memiliki arti baru diciptakan, tetapi baru dibandingkan yang tipikal.

Typicality dan novelty

Hekkert, Snelders dan Wieringen (2003) mempertentangkan ketipikalan (typicality) dan kebaruan (novelty). Menurut mereka, dua-duanya secara bersamaan mempengaruhi preferensi terhadap estetika desain produk. Produk tertentu disukai karena memiliki kebaruan tetapi juga memiliki ketipikalan. Jika tingkat kebaruan bertambah, maka tingkat ketipikalan akan menurun. Begitu juga sebaliknya. Tingkat preferensi terhadap produk yang tipikal (tingkat ketipikalan misalnya seratus persen?), cenderung rendah. Sentuhan kebaruan dalam porsi tertentu akan meningkatkan preferensi. Hasil penelitian penulis, kenaikan tingkat kebaruan akan meningkatkan preferensi, dan hubungan antara kebaruan dan preferensi bersifat linier.

Meskipun hubungan antara kebaruan dan preferensi bersifat linier, sepertinya secara penalaran, tidak mungkin menciptakan rancangan yang memiliki kebaruan secara utuh. Tampaknya tidak mungkin merancang rumah yang perwujudannya sama sekali tidak terlihat seperti rumah. Begitu pula, tidak mungkin merancang mobil yang perwujudannya tidak menyisakan unsur yang tipikal mobil. Seperti yang dikatakan oleh Hekker dkk, dalam sebuah rancangan yang cenderung disukai, kebaruan dan ketipikalan hadir bersamaan.

Kebaruan dan ketipikalan pada kegiatan restoratif

Kembali ke pembahasan tentang lingkungan yang restoratif. Lingkungan restoratif dikunjungi saat seseorang secara fisik atau mental merasa lelah atau jenuh. Lingkungan yang memiliki kebaruan, dapat menjadi tempat untuk being away, dan mengurangi kelelahan atau kejenuhan tersebut. Tetapi, lingkungan yang restoratif umumnya dikunjungi dalam jangka waktu tertentu saja, bukan dalam jangka waktu yang lama. Setelah kelelahan atau kejenuhan sirna, seseorang akan kembali merindukan kesehariannya. “Wah, lega, balik lagi ke rumah”, menandakan perasaan tenang kembali ke lingkungan keseharian yang akan dilalui dengan kegiatan-kegiatan yang tipikal. Lingkungan keseharian dengan tempat dan kegiatan tipikal, menyediakan ketenangan. Lingkungan dengan kebaruan, menyediakan jeda dan penyegaran (refreshing). Kehadiran kebaruan dan ketipikalan dibutuhkan saling bergantian. Kebaruan dan ketipikalan, masing-masing memberikan rangsangan yang berbeda. Yang satu melengkapi yang lain.

Catatan

Artikel ini membahas salah satu persoalan dalam perancangan. Perancangan merupakan kegiatan sintesis (merangkai) yang hasilnya akan semakin optimal apabila semua (beragam) persoalan dipikirkan secara komprehensif. Persoalan kebaruan dibahas bukan berarti kebaruan merupakan persoalan paling penting.

Daftar Pustaka

Bell, P.A., Fisher, J.D., Greene, T.C. & Baum, A. (2005). Environmental psychology (5th ed.). Hove, East Sussex: Psychology Press.

Berlyne, D. E. (1960). Conflict, arousal, and curiosity. New York: McGraw-Hill.

Hekkert, P., Snelders, D. &  Wieringen, P.C.W. (2003). ‘Most advanced, yet acceptable’: Typicality and novelty as joint predictors of aesthetic preference in industrial design. British Journal of Psychology, 94, 111-124. The British Psychological Society.

Kaplan, S. (1995). The restorative benefits of nature: Toward an integrative framework. Journal of Environmental Psychology, 15, 169-182. Academic Press.

CATATAN

Artikel ini ditulis untuk Majalah Kalawarta Kota Baru Parahyangan, edisi Maret 2015.

Menata Kompleksitas dalam Perancangan Lingkungan Binaan

Hanson E. Kusuma | SAPPK | ITB | hekusuma(at)gmail.com

Berlyne (1960) menyebutkan empat kriteria estetika lingkungan, yaitu kompleksitas (complexity), kebaruan (novelty), keganjilan (incongruity) dan keterkejutan (surprisingness). Peneliti yang lain, Kaplan dan Kaplan (1989) mengungkapkan empat kriteria preferensi terhadap lanskap, yaitu keserasian (coherence), kemudahan dipahami (legibility), kompleksitas (complexity) dan misteri (mystery). Dalam pengembangan pengetahuan dan pembahasan preferensi visual pada ranah lanskap, kota ataupun bangunan, umumnya peneliti dan penulis yang lain mengacu kepada kriteria-kriteria yang telah dilahirkan oleh Berlyne dan Kaplan-Kaplan. Artikel ini mencoba mengelaborasi salah satu kriteria yang secara kebetulan diungkapkan baik oleh Berlyne dan juga Kaplan-Kaplan, yaitu kompleksitas.

Kompleksitas merupakan salah satu kriteria preferensi terhadap lingkungan binaan, baik dalam skala ruang interior, bangunan, kota ataupun lanskap. Yang dimaksud kriteria adalah standar yang digunakan untuk menilai kualitas. Sedangkan yang dimaksud dengan kriteria preferensi pada artikel ini adalah standar yang digunakan untuk menilai kualitas lingkungan binaan positif atau negatif, disukai atau tidak, atau dipilih atau tidak. Apabila dalam perancangan kriteria tersebut dipertimbangkan dan diwujudkan dalam penataan lingkungan, maka lingkungan tersebut akan memiliki potensi untuk cenderung disukai. Lingkungan yang disukai akan menarik konsumen untuk membeli, mengundang pemilik untuk tinggal, membuat penghuni merasa betah, dst.

Kompleksitas seperti apakah yang meningkatkan preferensi, dan seperti apa pula yang akan menurunkan preferensi? Kompleksitas lingkungan binaan, dipengaruhi oleh jumlah titik, garis, bidang, volume dan warna yang berbeda. Semakin banyak jumlah titik, garis, bidang, volume dan warna yang berbeda, lingkungan akan semakin terlihat kompleks. Demikian pula sebaliknya, semakin sedikit jumlahnya, semakin terlihat simpel. Jika keragaman elemen lingkungan binaan semakin banyak, lingkungan akan semakin terlihat kompleks. Jika keragaman elemen semakin sedikit, lingkungan akan semakin terlihat simpel.

Pada penilaian terhadap lanskap, Berlyne (1960) mengungkapkan bahwa jika kompleksitas semakin tinggi, preferensi akan semakin tinggi. Berbeda dengan Berlyne, menurut Nasar (1998) pada lingkungan perkotaan, preferensi cenderung tinggi apabila tingkat kompleksitas lingkungan sedang. Pada penelitian yang penulis lakukan terhadap 116 fasada rumah tinggal antara tahun 2005 sampai 2009, terungkap kecenderungan yang sama dengan yang dikatakan oleh Nasar, bahwa jika kompleksitas rendah, preferensi cenderung rendah. Preferensi akan naik seiring dengan kenaikan tingkat kompleksitas dari rendah ke sedang, dan preferensi akan turun kembali jika kompleksitas berubah dari sedang ke tinggi. Preferensi paling tinggi pada tingkat kompleksitas sedang (contoh bangunan yang kemungkinan memiliki tingkat kompleksitas sedang dapat dilihat pada gambar di bawah).

Kompleksitas SedangGambar. Bangunan dengan tingkat kompleksitas sedang (?). Jumlah garis, bidang, volume dan warna yang berbeda tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak.

Dugaan penulis, pada lingkungan alami seperti lanskap yang tidak/sedikit disentuh oleh manusia, peningkatan tingkat kompleksitas cenderung akan meningkatkan preferensi. Tetapi, pada lingkungan binaan yang ditata dan memiliki unsur buatan manusia, peningkatan kompleksitas akan menaikkan preferensi sampai pada titik klimaks, setelah itu peningkatan kompleksitas akan menurunkan preferensi. Hubungan antara kompleksitas dan preferensi berbentuk kurvilinier: kompleksitas rendah preferensi rendah, kompleksitas sedang preferensi tinggi, kompleksitas tinggi preferensi rendah (lihat diagam).

Diagram Kompleksitas dan PreferensiDiagram. Hubungan kausal antara kompleksitas dan preferensi. Sumbu x, angka semakin besar kompleksitas semakin tinggi. Sumbu y, angka semakin besar preferensi semakin tinggi.

Untuk mencapai tingkat preferensi yang tinggi, pada perancangan lingkungan binaan dari skala kecil sampai ke yang besar/luas, elemen-elemen perancangan dapat dipilih dan ditata sedemikian rupa sehingga jumlah titik, garis, bidang, volume dan warna yang berbeda, tidak (terlalu) sedikit ataupun (terlalu) banyak. Jika keragaman elemen sangat sedikit, pengamat akan kurang mendapatkan stimulus dari lingkungan, sehingga ‘tidak ada yang dipikirkan’ dan segera merasa bosan. Sebaliknya jika keragaman elemen sangat banyak, pengamat akan mendapatkan stimulus berlebihan, sehingga ‘terlalu banyak yang harus dipikirkan’ dan merasa ‘pusing’. Agar lingkungan binaan disukai, keragaman titik, garis, bidang, volume dan warna diatur pada tingkatan yang moderat, tidak kekurangan dan tidak juga berlebihan.

‘Preferensi tinggi jika kompleksitas sedang’ merupakan teori yang generik, yang merupakan kecenderungan, bukan kepastian. Teori ini dapat dikatakan sebagai manifestasi selera populer (mayoritas), yang mungkin berbeda dengan selera kelompok tertentu (minoritas) yang memiliki konteks (sosial, ekonomi, budaya, dan politik) tertentu. Yang dimaksud dengan selera kelompok tertentu di sini misalnya selera kelompok yang dalam kehidupan kesehariannya sangat sibuk, menghadapi banyak tekanan, memikirkan banyak hal, dan tinggal di kota yang memberikan banyak stimulus. Kelompok seperti ini, karena sehari-hari menghadapi kerumitan kehidupan, mungkin akan cenderung lebih menyukai lingkungan yang lebih simpel, yang memiliki tingkat kompleksitas rendah, yang mampu meredakan dan melepaskan ketegangan dalam kehidupan kesehariannya.

Kelompok yang sibuk dalam kesehariannya, mungkin lebih cenderung menyukai lingkungan tempat tinggal atau rumah yang ‘tidak sibuk’. Lingkungan tempat tinggal atau rumah yang menyediakan ‘jeda’, dengan sedikit atau tanpa stimulus mungkin digemari oleh mereka, secara sadar (dipahami) atau tanpa sadar (tidak dipahami tetapi dirasakan). Jeda meredakan high-tension menjadi low-tension. Kelompok yang sibuk, mungkin juga menggemari duduk di tepi pantai, memandangi hamparan pasir dan laut nan luas. Di pantai, tidak melihat apa-apa kecuali satu bidang hamparan pasir dan laut, satu garis horizon dan satu bidang langit. Jumlah bidang dan garis yang dilihat sedikit. Kompleksitas yang rendah di tepi pantai menghadirkan ketenangan.

Sebaliknya, kompleksitas yang tinggi mungkin digemari oleh kelompok yang sedang membutuhkan stimulus. Kelompok yang sedang memiliki waktu luang atau bingung akan mengerjakan apa di waktu luangnya, mungkin menggemari lingkungan yang kompleks dan memberikan banyak rangsangan seperti shopping-mall atau pusat hiburan/permainan. Lingkungan seperti shopping-mall atau pusat hiburan/permainan lebih tepat dirancang memiliki banyak titik, garis, bidang, volume, warna dan juga fungsi yang beragam. Kelompok yang datang ke tempat-tempat seperti itu, datang untuk mencari rangsangan. Karena itu, mereka akan lebih menggemari tempat yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi.

Dari uraian di atas, kira-kira dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif selera populer, lingkungan akan lebih cenderung disukai jika tingkat kompleksitasnya sedang; stimulus yang diberikan tidak terlalu sedikit, tidak juga terlalu banyak. Tetapi, pada situasi stimulus sebaiknya dikurangi atau sedikit, misalnya pada tempat untuk menenangkan diri, fasilitas restoratif, atau juga tempat tinggal, penataan lingkungan dengan tingkat kompleksitas rendah akan lebih disukai. Sebaliknya pada situasi dibutuhkan banyak rangsangan, seperti shopping-mall atau pusat hiburan/permainan, penataan lingkungan dengan tingkat kompleksitas tinggi akan lebih disukai.

Lingkungan dengan tingkat kompleksitas rendah dan tinggi, dibutuhkan keberadaannya pada saat momentum keinginan untuk meredakan ketegangan atau mencari rangsangan terasakan. Setelah keinginan terpuaskan, mungkin lingkungan dengan kompleksitas rendah dan tinggi terasa hambar atau meletihkan. Pada saat itu, keberadaan lingkungan dengan kompleksitas sedang dan dapat didiami dalam durasi yang panjang kembali dibutuhkan. Kebutuhan akan lingkungan dengan kompleksitas sedang, mungkin cenderung lebih bertahan lama, dibandingkan dengan yang rendah atau tinggi. Kebutuhan akan lingkungan dengan kompleksitas rendah atau tinggi lebih bersifat temporer. Jika bertahan lama di dalamnya, akan membosankan atau melelahkan.

Dalam penataan lingkungan binaan, agar kehidupan berjalan seimbang, perlu disediakan tempat-tempat dengan tingkat kompleksitas rendah, tempat-tempat dengan kompleksitas sedang, dan juga tempat-tempat dengan kompleksitas tinggi. Untuk kegiatan sehari-hari, mungkin lebih menyenangkan berada di tempat dengan tingkat kompleksitas sedang. Pada saat stress, berada di tempat dengan kompleksitas rendah, dan di waktu luang mendatangi tempat dengan kompleksitas tinggi. Yang menjadi persoalan kehidupan keseharian perkotaan (di Indonesia) pada saat ini adalah tingkat kompleksitas lingkungan cenderung tinggi. Menemukan tempat dengan tingkat kompleksitas tinggi jauh lebih mudah daripada yang sebaliknya. Jika dalam keseharian terperangkap dalam lingkungan (dan juga kehidupan) yang kompleks, mungkin kekosongan akan diidamkan dan dianggap sebagai kemewahan.

Daftar Pustaka

Berlyne, D. E. (1960). Conflict, arousal, and curiosity. New York: McGraw-Hill.

Kaplan, R., & Kaplan, S. (1989). The experience of nature: A psychological perspective. New York: Cambridge University Press.

Nasar, J.L. (1997). The Evaluative Image of The City. Sage Publications, California.

Catatan
Artikel ini telah dimuat di majalah Kalawarta, Berita Komunitas Kota Baru Parahyangan, edisi Desember 2014.

Value Lingkungan Alami

Hanson E. Kusuma | SAPPK | ITB | hekusuma(at)gmail.com

Siang hari, dari Jalan Sudirman menuju ke Barat, melalui Jalan Raya Cibeureum, terus ke Barat ke Jalan Raya Cibabat, Jalan Raya Cimahi dan Jalan Raya Cimareme, perjalanan dari kota Bandung, melalui Cimahi menuju Padalarang. Di dalam mobil, badan merasakan udara sejuk AC, tetapi suasana hati, tidak sesejuk udara dalam mobil. Melihat deretan bangunan, berdempetan, tanpa sempadan samping. Terasa sesak. Sebagian tanpa sempadan depan, sebagian lagi dengan sempadan depan yang berbeda-beda, maju mundur tidak beraturan. Bentuk dan wajah bangunan juga berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang sederhana ada pula yang rumit. Style bangunan-pun beragam. Atap limas, pelana dan datar campur aduk. Komposisi dan proporsi dinding dan jendela, solid dan void fasad bangunan sangat bervariasi. Kolom, kanopi dan pagar maju mundur dan tinggi rendah tidak beraturan. Dimensi, desain dan posisi papan iklan, spanduk, billboard toko, tidak seragam, berantakan.

Di jalan pun, mobil melaju pelan, saat melaju agak lancar, angkot tiba-tiba berhenti dan menghalangi. Motor pun berlimpah serobot sana sini, semrawut. Suasana hati panas, melihat dan mengalami wajah kota yang tidak teratur dan terasa ‘keras’, yang terlihat oleh mata: bangunan, bangunan dan bangunan. Semakin terasa ‘keras’ melihat mobil, motor, dan apalagi angkot.

Sejenak setelah memasuki Jalan Padalarang belok kiri ke arah Selatan: suasana langsung berubah, dari panas, menjadi lebih dingin dan lebih tenang. Kembali, udara di dalam mobil terasa sejuk, mata melihat deretan pohon tertata rapi, jalur pedestrian terawat dengan baik, kemanapun memandang, yang terlihat pohon dan pohon. Pohon-pohon yang rimbun berjajar di depan bangunan. Greenscape menjadi latar-depan. Hardscape menjadi latar-belakang. Vegetasi lebih dominan daripada bangunan. Terasa berbeda memasuki kawasan perumahan di perbatasan Cimahi-Padalarangan. Enak dilihat.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Agnes E. van den Berg,  Sander L. Kool, Nickie Y. van der Wulp (2003) di artikel berjudul Environmental Preference dan Restoration, yang dituliskan diJurnal of Environmental Psychology : orang mempersepsi lingkungan alami lebih indah daripada bangunan, dan lingkungan alami membuat mood (suasana hati) lebih baik. Mereka juga menyebutkan lingkungan alami memiliki efek restoratif, menghilangkan rasa lelah, menurunkan ketegangan dan menghadirkan rasa santai.

Kalevi M. Korpela (2003) juga mengatakan lingkungan natural akan membantu menurunkannegative mood. Hartig dkk (1996) mengatakan hal yang senada, natural environment memiliki pengaruh positif pada emosi dibandingkan dengan urban environment. Nancy M. Wells (2000), dalam artikelnya yang berjudul ‘At Home with Nature: Effects of “Greenness” on Children’s Cognitive Functioning’ (diterbitkan di jurnal Environment and Behavior), menyatakan bahwagreenness  di lingkungan perumahan meningkatkan fungsi kognitif anak-anak dan secara signifikan mempengaruhi kesehatan mereka. Galindo (2000) dari University of Seville juga menyatakan apresiasi estetika berupa kegiatan menikmati keindahan alam memberikanpleasure dan arousal serta mempengaruhi psychological well-being.

Apa yang dinyatakan oleh para peneliti seperti di atas, dalam kehidupan sehari-hari kita alami dan rasakan. Saat merasa jenuh dan ingin menyegarkan pikiran, kita pergi ke restoran yang asri, atau bersama keluarga pergi ke kebun teh, gunung, sungai, danau ataupun laut, mencari lingkungan alami yang secara visual terlihat hijau dan segar, atau yang memiliki unsur air. Disadari ataupun tidak, dibandingkan dengan yang buatan, lingkungan alami membuat kita merasa tenang. Kehadiran lingkungan alami, merangsang respon afektif, kognitif dan konatif yang positif pada diri kita. Karena itu, kehadiran lingkungan alami memiliki value, bagi mereka yang dapat mengaksesnya.

Pada praktek pengembangan properti, aksesibilitas terhadap lingkungan alami, menjadi atribut perencanaan dan segmentasi pasar. Perumahan untuk segmen kelompok sederhana, direncanakan dan dirancang dengan rasio hijau sedikit, area yang dapat digunakan untuk menanam pohon terbatas. Untuk segmen kelompok menengah, rasio hijau lebih besar, tersedia halaman di depan dan belakang yang dapat menjadi tempat untuk ‘bernafas’. Untuk segmen kelompok atas, halaman depan ataupun belakang lapang dan lega, area hijau cukup untuk menanam beberapa pohon besar. Untuk segmen luxury, rasio hijau lebih besar daripada yang terbangun, kemanapun mata memandang hijau yang terlihat. Untuk segmen di atasnya lagi,prestige : rumah tidak kelihatan, dari gerbang menuju rumah dicapai melalui greenway pribadi. Halaman bukan sekedar taman, tetapi hutan yang membuat seolah-olah rumah adalah tempathideaway. Hijau yang tumbuh di atas tanah yang stoknya terbatas, menjadi simbol dan tanda kesejahteraan dan ‘kemewahan’.

Kesan pertama saat memasuki kawasan perumahan di perbatasan Cimahi-Padalarang : luxury, atau sedikit di bawahnya. Kemanapun mata memandang hijau yang terlihat. Mengalokasikan ruang bukan hanya untuk porsi yang dapat dijual, tetapi untuk rasio hijau, merupakan ‘kemewahan’ yang direncanakan dan dirancang oleh pengembang, di tengah-tengah kelangkaan stok lahan. Di lingkungan urban, yang setiap jengkal lahan dapat menjadi komoditas, mengalokasikan ruang hijau memerlukan visi dan selera dari pengambil keputusan. Pengambilan keputusan tersebut akan sangat mempengaruhi citra perumahan dan benefit yang akan didapatkan oleh penghuninya dalam jangka pendek secara emosional, kognitif dan konatif, serta dalam jangka panjang: well-being.

Daftar pustaka

Galindo, M.P.G. & Roriquez, J.A.C. (2000). Environmental Aesthetics and Psychological Wellbeing: Relationships between Preference Judgements for Urban Landscapes and Other Relevant Affective Responses. Psychology in Spain, 2000, Vol. 4. No 1, pp 13-27.

Hartig, T., Book, A., Garvill, J., Olsson, T. & Garling, T. (1996). Environmental Influences on Psychological Restoration. Scandinavian Journal of Psychology, 37, pp 378-393.

Korpela, K. M, (2003). Negative Mood and Adult Place Preference. Journal of Environment and Behavior, Vol.35 No.3 May 2003, pp.331-346.

Wells, N.M. (2000). At Home with Nature: Effects of “Greenness” on Children’s Cognitive Functioning. Environment and Behavior; 32; pp 775-795.

Van den Berg, A.E., Koole.S.L & Van der Wulp. N.Y. (2003), Environmental Preference and Restoration: (How) are they related? Journal of Environmental Psychology, Vol 23, pp.135–146.

CATATAN
Artikel ini telah dimuat di Majalah Kalawarta Kota Baru Parahyangan, edisi Maret 2013. Versi online juga telah dimuat di situs IPLBI.

Perbedaan Penelitian dan Perancangan

Hanson E. Kusuma | SAPPK | ITB | hekusuma(at)gmail.com

Penelitian

Enam sekuens kegiatan dalam penelitian, mengadopsi Creswell (2011): (1) identifikasi persoalan, (2) kajian pustaka, (3) spesifikasi tujuan penelitian, (4)pengumpulan data, (5) analisis data dan (6) laporan dan evaluasi penelitian. Enam tahapan tersebut dalam pelaksanaan penelitian dikerjakan secara berurutan, tidak dapat dibalik. Kajian pustaka harus dikerjakan sebelum tujuan penelitian diputuskan. Kajian pustaka yang komprehensif, akan membantu pengambilan keputusan tujuan penelitian yang tepat, menghindari pengulangan penelitian yang telah dikerjakan oleh orang lain, menjamin kebaruan temuan penelitian dan menjamin kontribusi penelitian pada pengembangan ilmu pengetahuan atau pemahaman terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.

Tujuan penelitian menggambarkan penelitian yang akan dikerjakan bersifat deskriptif (naratif, fenomenologi, etnografi), eksploratif (grounded-theory, studi-kasus) atau eksplanatori (korelasional, kuasi eksperimental, eksperimental), (Creswell, 2007, Groat & Wang, 2002). Rumusan dari tujuan penelitian, memiliki implikasi langsung pada metode pengumpulan data, apakah akan bersifat open-ended atau close-ended, kualitatif atau kuantitatif. Rumusan tujuan, jika tujuan dirumuskan dengan baik, juga secara implisit menggambarkan pengetahuan yang akan diungkap atau teori yang akan disusun, yang strukturnya tergantung pada metode analisis yang digunakan1. Sehingga, secara praktis dapat dipahami bahwa tujuan, pengumpulan data dan analisis data merupakan tahapan yang berurutan yang sekuensnya tidak dapat ditukar-tempat.

Tahapan terakhir dari penelitian, yang juga merupakan maksud penelitian dikerjakan adalah mendapatkan pengetahuan baru2. Penelitian akan sia-sia jika setelah rangkaian kegiatan yang dikerjakan, tidak didapatkan pengetahuan baru yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan atau secara langsung meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan lokal yang ada di lingkungan sekitar. Mendapatkan pengetahuan baru merupakan klimaks, dari enam tahapan kegiatan penelitian yang sekuens-nya berurutan.

Ketiadaan salah satu dari enam kegiatan yang tersebut di atas, akan membuat rangkaian kegiatan yang terjadi tidak dapat disebut penelitian. Penelitian selalu ditandai dengan keberadaan persoalan yang spesifik. Tanpa kajian pustaka penelitian akan tidak berarti. Tanpa tujuan, apa yang dicapai tidak akan jelas dan kontribusi pada pengetahuan akan kabur. Bukan penelitian jika rangkaian kegiatan dikerjakan tanpa pengumpulan data. Data yang terkumpul akan percuma tanpa dianalisis. Tanpa analisis pengetahuan baru tidak akan didapatkan, yang didapatkan mungkin hanyalah opini pribadi. Yang terakhir, penelitian hanya dikatakan berhasil jika diperoleh pengetahuan baru3.

Ciri-khas penelitian

Penelitian dikerjakan untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang persoalan tertentu yang spesifik. Satu penelitian tertentu tidak mungkin dapat mengungkap segala macam pengetahuan secara utuh tentang permasalahan atau persoalan tertentu yang sedang dihadapi. Pengetahuan yang utuh hanya dapat diperoleh melalui rangkaian kegiatan penelitian yang dikerjakan oleh peneliti tertentu secara berkelanjutan atau oleh komunitas pengembangan keilmuan secara kolektif (banyak orang tanpa kesepakatan formal) atau kolaboratif (bersama-sama dengan kesepakatan formal).

Di antara sekian banyak persoalan di dalam perencanaan ataupun perancangan arsitektur, penelitian memperdalam dan mengembangkan pemahaman terhadap permasalahan spesifik dari persoalan tertentu. Penelitian tentang persoalan kekuatan struktur misalnya dapat fokus hanya pada permasalahan kekuatan bambu sebagai material batang tarik, tidak membahas permasalahan yang lain. Penelitian tentang tempat favorit, misalnya dapat  fokus hanya pada pilihan tempat favorit dewasa muda, karakteristik fisik tempat dan kegiatan-kegiatan yang terjadi dan tidak memperhatikan misalnya persoalan keselamatan, keamanan, keberlanjutan dll dari tempat favorit, meskipun persoalan-persoalan tersebut juga merupakan persoalan penting lain di dalam ranah pengetahuan arsitektur. Penelitian fokus pada usaha untuk memahami karakteristik/pattern (dibantu analisis) dari komponen tertentu dari pengetahuan arsitektur.

Perancangan

Enam sekuens tahapan kegiatan perancangan, mengadopsi dari Duerk (1993): (1)identifikasi fakta, (2)memilih persoalan prioritas, (3)memutuskan tujuan, (4)menetapkan kriteria, (5)memilih konsep dan (6)presentasi. Sewajarnya fakta (tapak, konteks dan pengguna) diidentifikasi dan dipahami dengan baik, di awal rangkaian kegiatan perancangan. Karya perancangan selalu berada di tapak4 yang memiliki karakteristik yang khas, dikelilingi konteks5 yang khas danpengguna6 yang mungkin juga sangat berbeda dengan karya perancangan lainnya. Perancangan tidak mungkin dimulai tanpa memahami ‘lokalitas’ fakta perancangan. Karena itu, identifikasi fakta merupakan kegiatan pertama yang seharusnya dikerjakan oleh arsitek sebelum mulai berimajinasi ruang dan bentuk yang akan dirancang.

Di antara beragam fakta tapak, konteks dan pengguna, sebagian dapat diperhatikan lebih cermat, mengikuti persoalan (issue)7 yang diprioritaskan dalam perancangan. Jika persoalan hemat energi menjadi prioritas, mungkin fakta koordinat lintang bujur dan iklim tapak perlu didata lebih cermat. Jika persoalan keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar diprioritaskan, maka langgam bangunan sekitar diamati, datanya dikumpulkan, misalnya menggunakan metodeinstrumented observation, dan dianalisis dengan teliti, misalnya menggunakan content analysis(Krippendorff, 2004). Persoalan prioritas dapat dipilih sebelum, bersamaan ataupun sesudah identifikasi fakta, dan dapat dipilih sebelum atau bersamaan dengan dengan pengambilan keputusan tujuan (hasil akhir ideal yang ingin dicapai) perancangan.

Kriteria merupakan standar yang digunakan untuk menilai ketercapaian tujuan perancangan. Jika tujuan yang ingin dicapai keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar, maka kriterianya misalnya, tingkat kemiripan langgam kulit bangunan, kemiripan dimensi atau proporsi bangunan, kemiripan konfigurasi ruang, dll. Kriteria ditetapkan setelah tujuan diputuskan. Selanjutnya pada setiap kriteria perancangan, dapat dipilih beberapa konsep perancangan (cara arsitektural untuk mencapai tujuan dan memenuhi kriteria perancangan). Misalnya untuk memenuhi kriteria kemiripan langgam kulit bangunan, dipilih konsep langgam dinding yang memiliki tipologi bentuk yang mirip dengan bangunan di lingkungan sekitar tetapi menggunakan warna analogic (warna-warna yang berdekatan), dan bentuk, dimensi, proporsi bukaan yang sama persis tetapi dengan warna komplementer (posisi pada diagram warna berlawanan). Konsep perancangan mengikuti kriteria, dan kriteria ditetapkan berdasarkan tujuan.

Sekuens tujuan, kriteria dan konsep tidak dapat ditukar-tempat. Seharusnya tujuan tidak dicari-cari atau dipas-paskan dengan konsep yang terbayangkan sejak awal. Seandainya konsep datang lebih dulu daripada tujuan dan kriteria, kemungkinan sang arsitek ‘nyontek’ solusi desain yang telah dirancang oleh orang lain, hanya copy-paste yang pernah dilihat di media atau di lapangan. Arsitek peniru yang seperti ini tidak akan menjadi arsitek besar. Seandainya tujuan lebih dulu diputuskan, lalu kriteria dirumuskan, dan kemudian konsep dipikirkan, mungkin konsep-konsep yang tak terbayangkan sebelumnya akan bermunculan, karena kemunculan konsep dipandu oleh tujuan dan kriteria bukan oleh imajinasi hasil melihat karya orang lain.

Enam tahapan kegiatan perancangan seperti di atas sangat masuk akal dan mudah untuk dipahami. Enam tahapan tersebut mengorganisasikan dan menata kegiatan perancangan mengikuti sekuens waktu. Yang lebih dulu dan menjadi sebab didahulukan. Yang datang kemudian dan menjadi akibat dikerjakan kemudian. Hubungan sebab-akibat antar kegiatan tertata dengan benar. Penataan seperti ini, dapat diperkirakan akan menghasilkan proses perancangan yang efisien (hemat waktu, tenaga dan biaya) dan efekftif (memberikan hasil seperti klien puas, reputasi baik, bagi mahasiswa lulus tugas akhir dst).

Ciri-khas Perancangan

Perancangan dikerjakan untuk mendapatkan perwujudan karya arsitektur dalam berbagai skala, seperti bangunan, lanskap, kota, kawasan dst. Di dalam perancangan, tapak dan konteks direspon, kebutuhan pengguna diwadahi, komponen yang tangible (atap, dinding, lantai, kolom, pondasi dll) dan yang untangible (ruang)  dirangkai menjadi satu. Perancangan merupakan kegiatan merangkai berbagai macam komponen pengetahuan/persoalan menjadi satu keutuhan. Karena itu, perancangan disebut juga sebagai kegiatan sintesis (merangkai).

Penelitian vs perancangan

Penelitian merupakan kegiatan pengembangan pengetahuan tentang persoalan spesifik tertentu. Fenomena tertentu diurai menjadi persoalan-persoalan kecil, karakteristik persoalan tersebut diidentifikasi, ciri-khas yang dimiliki dan pattern (ilmu) yang tersembunyi di dalamnya diungkap menggunakan metode-metode analisis. Analisis (mengurai) merupakan core kegiatan penelitian. Sebaliknya, perancangan merupakan kegiatan merangkai berbagai persoalan menjadi satu kesatuan yang utuh. Berbagai persoalan dipahami dan dirangkai menjadi satu kesatuan ruang dan bentuk. Sintesis (merangkai) merupakan core kegiatan perancangan.

Kegiatan penelitian dan perancangan memiliki karakter yang berbeda. Penelitian berusaha memahami persoalan tertentu, perancangan menerapkan pemahaman semua persoalan, yang terkait perancangan. Penelitian cenderung bersifat dekomposisi, konvergen, fokus, rasional dan ilmiah, sehingga prosedur pengerjaannya harus benar (valid) dan dapat dipercaya (reliable). Perancangan cenderung bersifat rekomposisi, divergen, keutuhan, intuitif dan tidak harus ilmiah, sehingga prosedur pengerjaannya tidak baku dan tidak harus (tidak perlu) valid. Akurasi analisis sangat penting dalam penelitian. Kreativitas sintesis sangat penting dalam perancangan, karena alternatif dan variasi kemungkinan kombinasi/rangkaian berbagai persoalan tidak terbatas (infinite).

Jurnal penelitian dan perancangan

Artikel dalam jurnal penelitian disusun mengikuti tahapan kegiatan penelitian, diawali dengan (1)latar belakang persoalan, (2)pemetaan persoalan di dalam kajian pustaka, (3)pernyataan permasalahan/tujuan, diikuti dengan penjelasan tentang (4) metode pengumpulan data dan (5) analisis data, diakhiri dengan (6) interpretasi dan diskusi yang merupakan ramuan dari hasil analisis, teori dan pemikiran peneliti. Urutan pembahasan dalam artikel  jurnal penelitian sangat tegas sesuai dengan karakter dari penelitian.

Mengikuti pola dari jurnal penelitian, artikel dalam jurnal perancangan juga dapat disusun mengikuti tahapan kegiatan perancangan, diawali dengan  (1)deskripsi fakta-fakta penting terkait persoalan prioritas, (2)pemetaan persoalan prioritas, (3)pernyataan tujuan perancangan, diikuti dengan (4)penjelasan kriteria perancangan, dan diakhiri dengan (5)konsep-konsep perancangan yang dipilih, yang dapat juga disertai dengan kajian pustaka yang menjadi dasar (reasoning)9 penetapan kriteria dan pemilihan konsep perancangan.

Tetapi, kreativitas sintesis sangat penting dalam perancangan, sehingga urutan penulisan artikel jurnal perancangan tidak harus baku seperti tertulis di atas. Sekuens penulisan artikel jurnal perancangan dapat disusun mengikuti sekuens kegiatan perancangan yang dikerjakan oleh arsitek. Sekuens seperti di atas hanyalah salah satu kemungkinan sekuens yang mudah diterima akal sehat, yang mungkin bermanfaat, dapat digunakan sebagai entry dan mudah untuk disampaikan ke dan diterima oleh calon arsitek yang sedang belajar. Prinsip yang dapat diterapkan dalam penulisan artikel jurnal, baik jurnal penelitian atau perancangan adalah sekuens penulisan mengikuti sekuens kegiatannya.

Jurnal digunakan sebagai media komunikasi dan akumulasi pengetahuan. Jurnal penelitian digunakan sebagai media komunikasi dan akumulasi pengetahuan spesifik (persoalan tertentu). Jurnal perancangan digunakan untuk media komunikasi dan akumulasi pengetahuan proses perancangan dan kemungkinan-kemungkinan sintesis berbagai persoalan, yang jumlahnya tidak terbatas (?).

Catatan

1) Teori merupakan penjelasan terstruktur dari fenomena. Penjelasan dikatakan terstruktur apabila hubungan antar faktor jelas, apakah berupa hubungan korespondensial (coincidence), korelasional, kausal (sebab-akibat, langsung ataupun tidak langsung), persamaan, kemiripan, perbedaan, pengelompokan dll yang dapat diungkap menggunakan metode analisis data seperti analisis koresponden, analisis korelasi, analisis regresi, structural equation modeling, anova, manova, analisis klaster, analisis komponen prinsip, analisis faktor dll.
2) Pada tahapan penelitian yang dijelaskan oleh Creswell (2011), pengetahuan baru yang diperoleh melalui interpretasi (interpretasi = hasil analisis + teori + pemikiran) berada dalam tahap ke 6, laporan dan evaluasi penelitian.
3) Pengetahuan dikatakan baru apabila berbeda dengan yang lama. Yang lama hanya dapat dipahami melalui kajian pustaka. Karena itu kajian pustaka merupakan kegiatan yang esensial dalam penelitian.
4) Tapak, memiliki karaktersitik yang umumnya tangible, seperti dimensi, topografi, geologi, hidrologi, kebisingan, aroma, flora-fauna, kepadatan tanah, utilitas, pemandangan ke dalam dan keluar tapak, posisi terhadap matahari, arah dan kecepatan angin, arah mata angin dll, yang spesifik tergantung pada lokasi tapak.
5) Konteks, memiliki karakteristik yang umumnya untangible, seperti kondisi demografi (komposisi usia, pendapatan, pendidikan, suku, dll), budaya (langgam bangunan di sekitar tapak, kebiasaan penduduk meluangkan waktu di sore hari, tradisi tahunan, kebiasaan buang sampah dll), kondisi ekonomi (tingkat ekonomi masyarakat, kegiatan mata pencaharian, dll), kondisi sosial (pola interaksi dan komunikasi antar anggota masyarakat di lingkungan sekitar, hirarki dan hubungan antar orang, dll), kesejarahan lokasi, etika masyarakat dll.
6) Pengguna, memiliki keinginan, kebutuhan, kebiasaan, nilai (value= pemikiran/rasa tentang apa yang penting/tidak penting), tujuan yang ingin dicapai, preferensi, kegiatan dll yang diwadahi dalam perancangan.
7) Yang dimaksud dengan persoalan/issue perancangan adalah segala macam topik atau hal-hal yang harus dipikirkan atau direspon di dalam perancangan, misalnya kenyamanan, keamanan, keselamatan, kekuatan, ketangguhan, citra (identitas, keindahan, status, hirarki, pesan dll), mood (respon emosional, suasana hati, sikap), respon kognitif, fungsi, dampak lingkungan, keberlanjutan, energi, orientasi, interaksi, privasi, teritori, dll.
8) Content analysis (analisis isi), dapat digunakan untuk menganalisis data teks ataupun objek. Langkah analisis data objek: mengurai objek menjadi komponen penyusun, identifikasi ciri-khas komponen, pengkategorian ciri-khas dan pemberian nama.
9) Pada penelitian, kajian pustaka digunakan untuk memetakan pengetahuan yang telah berkembang, mempertajam tujuan penelitian dan menjamin kebaruan penelitian. Pada perancangan, kajian pustaka digunakan sebagai sumber ‘ilmu’ (reasoning) yang diterapkan dalam menyusun kriteria dan konsep perancangan tertentu. Misalnya, karya perancangan yang menggunakan ilmu hasil penelitian struktur, akan lebih tangguh daripada yang strukturnya hanya ‘dikira-kira’ secara intuitif oleh arsitek.

Daftar pustaka

Creswell, J.W. (2011). Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson Education Inc.

Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing among Five Approaches, 2nd edition. Thousand Oaks: Sage Publications Inc.

Duerk, D.P. (1993). Architectural Programming, Information Management for Design. New York: Van Nostrand Reinhold.

Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley& Sons. Inc.

Krippendorff, K.H. (2004). Content Analysis: And Introduction to Its Methodology. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc

CATATAN

Artikel ini merupakan hand-out yang dibagikan pada acara Workshop Metode Pembimbingan Penyusunan Karya Ilmiah Mahasiswa bagi Dosen Pembimbing Tugas Akhir, yang diselenggarakan di Program Studi Arsitektur, Universitas Pancasila, Jakarta, pada tanggal 28 Maret 2013. Artikel disusun untuk melengkapi materi presentasi yang berjudul Penelitian versus Perancangan.

Versi digital artikel ini juga telah dimuat di situs IPLBI pada bulan Maret 2013.