ARSITEKTUR ITB

Single Blog Title

This is a single blog caption
22 May 2016

Keagungan dalam Kesederhanaan Masjid Salman

Keagungan dalam Kesederhanaan Masjid Salman

15213098|Muhammad Zakky Ibrahim

Masjid Salman merupakan salah satu karya penanda alih zaman. Masjid Salman dirancang tahun 1964 dengan gaya yang atap yang tidak umum pada zamannya. Kepalanya tidak dirancang dengan menggunakan kubah atau atap gaya pengaruh kebudayaan persia. Sebuah karya Ahmad Noe’man yang berdiri tegak sebagai tanda bahwa kita memiliki akal dan tidak taqlid (taat buta) pada hal-hal yang berbau agama. Hal unik lainnya, rancangan atap dibuat sedemikian rupa sehingga beban mampu tersebar ke titik-titik tumpuan dipojok-pojok bangunan sehingga ruang utama bebas dari kolom. Karya beliau tidak hanya membawa kesadaran akan arsitektur dan menonjolkan teknologi bangunan, tapi juga mengembalikan hakikat masjid sebagai “ruang” untuk beribadah.

Pada dasarnya masjid, sejak pertama kali didefinisikan, merupakan ruang untuk ibadah kepada Sang Pencipta. Pada Awal rancangannya masjid hanya ditandai oleh dinding dari lumpur yg mengeras dan pelepah kurma. Tanpa langgam atau gaya arsitektur khusus. Seiring dengan perkembangan zaman akhirnya masjid mulai mengalami pergeseran fungsi dan makna. Secara tidak langsung ia menjadi simbol kekuasaan dan kemajuan zaman. Mulai bergeser dari tujuan awalnya yang berupa ruang untuk ibadah. Melalui karyanya, Ahmad Noe’man berdialog dengan kita tentang hakikat masjid sebagai “ruang”.

ruang utama dengan langit-langit tinggi dan ruang bebas kolom teras menjadi tempat kegiatan belajar Penggunaan material pada masjid berkaitan erat dengan kesan yang ditimbulkan dan kesesuainnya dengan kegiatan yang dilakukan. Bagian luar Masjid didominasi oleh material-material yang tegas seperti batu, beton, dan marmer. Sedangkan Bagian dalamnya didominasi oleh material hangat seperti kayu. Pilihan material yang digunakan memberikan kesan yang berbeda pada tiap ruang, baik yang didefinisikan secara formal ataupun yang terdefinisi dengan sendirinya melalui kegiatan-kegiatan yang ada dalam masjid. Bagian teras masjid menggunakan marmer yang memberikan sensasi sejuk karena mampu menyimpan suhu dingin. Pemilihan material ini membuat orang nyaman berkegiatan di teras masjid. Teras masjid seringkali digunakan oleh kegiatan belajar bersama ataupun mentoring agama dengan kelompok-kelompok kecil yang tersebar di sekitaran area teras. Bagian dalam masjid yang menjadi ruang utama ibadah didominasi oleh material kayu yang memberikan kesan hangat. Penggunaan kayu yang memiliki pori-pori mampu menjadi insulator suhu dan menjaga bagian dalam masjid tetap hangat karena mengurung panas tubuh orang-orang yang ada di dalamnya. Ketika melakukan shalat berjamaah (sembahyang bersama) kehangatan akan terasa karena masjid penuh dengan orang. Sedangkan ketika ingin melakukan ibadah sendiri di luar waktu wajib, masjid terasa sejuk karena lebih sepi.

teras dengan langit-langit rendah

ruang utama dengan langit-langit tinggi dan ruang bebas kolom

 

Sebelum memasuki ruang utama, kita diantarkan melalui lorong-lorong yang jauh lebih rendah. Cara ini memberikan kesan lebih luas saat memasuki ruang utama masjid. Ada tegangan yang diberikan antara peralihan ruang pengantar dan ruang utama yang diberikan melalui perbedaan ketinggian langit-langit. Saat memasuki ruang utama, kita seolah dikejutkan dengan ruang utama yang luas karena tidak menggunakan kolom ditengah ruangan digabung dengan perbedaan ketinggian langit-langit. Ruang utama yang luas memberi kesan “kecil” kepada kita yang menggunakannya. Hal ini menonjolkan kembali hakikat masjid sebagai ruang untuk ibadah. Ruangan masjid tidak banyak dihiasi dengan ornamen-ornamen yang membuatnya terlihat berlebihan. Akan tetapi justru dari kesederhanaan keagungan masjid sebagai tempat ibadah terasa.