ARSITEKTUR ITB

Single Blog Title

This is a single blog caption
22 May 2016

Menikmati Pengalaman Ruang Di Sedangsono

 

15213076| ARYANTI

Sendangsono adalah kawasan ziarah umat Katolik yang berada di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang , Kabupaten Kulon Progo , DI Yogyakarta. Kawasan Sedangsono sendiri dirancang oleh YB Mangunwijaya pada tahun sekitar 1970 an.

Saya berkesempatan mengunjungi tempat ini ketika saya mengikuti acara kuliah lapangan yang diadakan oleh prodi arsitektur untuk angkatan arsitektur 2013. Saat memasuki kawasan ini , kita disambut oleh gerbang dari batu yang menandakan pintu masuk kemudian dilanjutkan oleh tangga untuk naik menuju kawasan Sedangsono. Secara keseluruhan kawasan Sedangsono ini memiiki ciri khas arsitektur Jawa dan menggunakan material batu dan kayu.

Gambar 1 . Gerbang Masuk Sedangsono

Gambar 1 . Gerbang Masuk Sedangsono

Citra/ Image

Pada aspek citra/image saya merasa bahwa kawasan Sedangsono ini mengutamakan citra yang nyaman, khusyuk dan dekat dengan alam . Dapat dilihat dari perancangan kawasan dengan penempatan kapel-kapel yang terpisah satu sama lain dan dikelilingi oleh pepohonan. Selain itu antar satu kapel dengan kapel lain dihubungkan dengan berbagai elemen arsitektural yang dapat meningkatkan kualitas ruang seperti tangga, ramp , tembok batu, jembatan, dll. Material yang digunakan pun sangat dekat dengan alam yaitu batu dan kayu.

Dengan adanya permainan ruang pada kawasan Sedangsono ini membuat pengunjung dapat menikmati kawasan ini secara seutuhnya dan tidak bosan terlepas dari kegiatan ziarah yang dilakukan pengunjung. Pengunjung yang bukan merupakan umat Katolik pun dapat menikmati kawasan ini sebagai tempat wisata karena pengalaman ruang yag disuguhkan oleh kawasan Sedangsono ini.

Gambar 2. Detail arsitektural di kawasan Sedangsono

Gambar 2. Detail arsitektural di kawasan Sedangsono

Gambar 3. Permainan Ruang di Sedangsono

Gambar 3. Permainan Ruang di Sedangsono

Kenyamanan

Pada aspek kenyamanan saya merasa bahwa tempat ini sangat nyaman untuk berziarah karena suasana tempat ini yang sangat tenang dengan dikelilingi oleh pepohonan . Selain itu tempat ini juga memiliki berbagai tempat yang dirancang sedemikian rupa agar pengujung dapat merasa nyaman. Seperti tangga bebatuan yang menuju ke sungai dapat juga  digunakan sebagai tempat duduk sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan sungai. Selain itu , hampir setiap sudut memiliki tempat yang dirancang agar dapat diduduki oleh pengunjung.

Dengan adanya fasilitas tempat duduk yang ditawarkan oleh kawasan Sedangsono ini membuat pengunjung lebih nyaman dan dapat beristirahat jika sudah capek saat berziarah, selain itu juga dapat menikmati kawasan Sedangsono pada angle tertentu.

Gambar 4 . Tangga yang bisa digunakan sebagai tempat duduk

Gambar 4 . Tangga yang bisa digunakan sebagai tempat duduk

Privasi

Pada aspek privasi , saya merasa kawasan Sedangsono ini menyuguhkan privasi yang cukup baik dengan adanya pepohonan di sekeliling setiap kapel yang ada di kawasan Sedangsono ini. Selain itu , setiap kapel dipisahkan oleh elemen arsitektural seperti tangga, ramp, tembok batu, jembatan, dll. Hal ini membuat privasi bagi pengunjung yang ingin berziarah . Dengan adanya pemisahan oleh elemen arsitektural tersebut juga dapat meminimalisir gangguan yang diberikan oleh pengunjung biasa kepada pengunjung yang ingin berziarah.

Gambar 5. Kapel yang dikelilingi pohon dan elemen arsitektural

Gambar 5. Kapel yang dikelilingi pohon dan elemen arsitektural

Secara keseluruhan, saya merasa penglaman ruang yang diberikan oleh kawasan Sedangsono ini sangat baik sehingga pengunjung dapat menikmati kawasan tersebut . Selain itu, saya merasa lebih dekat dengan alam ketika berkunjung ke kawasan ini dikarenakan material yang digunakan sangat alamiah seperti batu dan kayu selain itu juga , dengan adanya penambahan elemen alam yang diberikan yaitu pepohonan dan sungai.

Gambar 6 . Suasana dalam kawasan Sedangsono

Gambar 6 . Suasana dalam kawasan Sedangsono