ARSITEKTUR ITB

Single Blog Title

This is a single blog caption
22 May 2016

Kelap Malam di Atas Sungai Batanghari

//
Categories

15212011 | Nurmalina Kusmawati

Siapa yang tidak mengenal Sungai Batanghari? Sungai Batanghari merupakan salah satu sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Dalam sejarah keberadaannya sungai ini tercatat sebagai pusat perkembangan kerajaan-kerajaan besar dan berperan penting bagi kehidupan masyarakat, terutama masyarakat Kota Jambi. Walau pada saat ini keberadaan sungai yang sebelumnya pernah menjadi kebanggaan itu tidaklah sehebat dulu, keindahannya masih bertahan, belum bisa luput dari pandangan mata.

Baru-baru ini, keindahan Sungai Batanghari yang membelah Kota Jambi itu ditambah oleh kehadiran Si ‘ Jembatan Gentala Arasy ‘. ¬†Jembatan Pedestrian yang menghubungkan Kota Jambi dengan Sekoja, dimana terdapat tempat wisata berupa Menara sekaligus Museum Gentala Arasy. Jembatan dengan panjang kurang lebih 530 m ini memiliki karakteristik bentuk berkelok yang menyerupai huruf “S” dan pendaran warnanya di malam hari. Sengaja dibangun secara khusus bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda agar dapat menikmati wisata Sungai Batanghari dengan nyaman.¬† Kendaraan bermotor tidak dapat melewatinya karena terdapat tangga dan palang di tiap ujung jembatan yang tidak memungkinkan kendaraan tersebut untuk lewat.

Menara dan Museum Gentala Arasy hanya memiliki jam operasional sampai dengan pukul 5 sore. Sehingga ketika malam tiba, dapat dikatakan jembatan inilah yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung, selain jajanan kuliner yang berderet di sepanjang Sungai Batanghari. Membedakannya dengan jembatan pedestrian di Indonesia pada umumnya yang hanya berfungsi sebagai jalur penyeberangan. Dengan lebar 4.5 m, jembatan ini kebanyakan ramai dilalu-lalangi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak ingin menyeberang. Mereka hanya ingin merasakan suasana pemandangan malam dengan pantulan-pantulan sinar lampu yang dibiaskan oleh permukaan air Sungai Batanghari dengan sangat indah. Sesekali terlihat kapal ataupun perahu nelayan dan rakit yang lewat, menambah suasana dengan menampilkan aktivitas transportasi sungai yang masih berjalan.

Selain itu, aktivitas kota di pinggiran Sungai Batanghari juga dapat terlihat dari jembatan ini, karena jembatan memanjang pada ketinggian di atas dataran kedua ujungnya. Dua sisi yang terhubung, walaupun berjarak dekat memberikan kesan yang sama sekali berbeda ketika dilihat dari atas jembatan. Satu sisi Kota Jambi baru yang lebih modern dan satunya lagi adalah kota lama yang masih kental adat istiadatnya. Bangunan-bangunan yang terpancar cahaya lampu pun dapat membedakannya dengan jelas.

Sementara, pantulan lampu yang dihasilkan pada tiang-tiang jembatan yang kemudian terpantul lagi ke railing jembatan berkelip bergantian secara perlahan, tidak terburu-buru seakan waktu berputar pelan. Warna yang dihasilkan terlihat kontras pada langit malam yang gelap, tiang-tiang tingginya pun menjadi sumber cahaya utama yang menuntun pejalan kaki berkelok-kelok mengikuti alur jembatan.

Bentuk berkelok pada jembatan membuat terdapat beberapa titik penglihatan dengan pemandangan yang sangat baik dan tidak membosankan. Sering dimanfaatkan untuk mengabadikan momen ataupun menghasilkan karya fotografi profesional. Banyak orang yang menyebut Jembatan Pedestrian ini dengan nama Jembatan Gentala Arasy, membaurkannya dengan nama museum yang ada disana. Lebih dikenal daripada museum itu sendiri, menjadikannya pantas sebagai ikon baru di Kota Jambi.