ARSITEKTUR ITB

Single Blog Title

This is a single blog caption
22 May 2016

Medina, Livable City of Saudi Arabia

15211044 | Ryan Azhar

Kota Madinah merupakan salah satu kota tujuan ibadah serta wisata religius umat Muslim di seluruh dunia. Kota Madinah sudah sering terdengar dari kisah-kisah Nabi pada jaman dahulu kala. Banyak peristiwa penting yang terjadi di kota ini yang juga ditemukan dalam kitab suci Al-Quran. Salah satu bangunan yang paling terkenal di kota ini adalah Masjid Nabawi yang menjadi pusat ibadah serta kehidupan di Kota Madinah. Tidak heran, seiring perkembangan jaman, jumlah jamaah yang datang berkunjung ke Kota Madinah semakin banyak sehingga kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan banyaknya bangunan-bangunan yang didirikan di sekitar kawasan masjid yang menjadikan kawasan tersebut lebih hidup, terutama saat jam-jam setelah ibadah sholat 5 waktu.

Kesan pertama saat pertama kali menginjakan kaki di kota ini adalah suasana kota yang rapi dan nyaman. Bagi orang awam, hal yang terpikirkan mengenai Saudi Arabia adalah suatu tempat di belahan bumi yang memiliki cuaca yang panas dan gersang. Tetapi tidak seperti yang dibayangkan, saat berkunjung ke kota ini pada bulan Januari, suhu terendah yang dirasakan saat itu adalah 7o C—sangat dingin. Dengan suhu yang dingin ini, pengalaman yang didapat sama seperti saat mengunjungi kota-kota di Eropa pada umumnya. Berjalan di kawasan Kota Madinah terasa sangat nyaman karena skala bangunan yang tidak tidak terlalu tinggi dengan jalur pedestrian yang lebar. Bangunan-bangunan berbatasan langsung dengan pedestrian dan terdapat setback pada lantai dasar yang difungsikan sebagai koridor pada setiap sisi bangunan. Sebagian besar lantai dasar bangunan difungsikan sebagai area komersial dan lobi hotel.

Berbeda dengan kawasan Marina Bay di Singapura atau Manhattan di USA yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit yang modern, kawasan sekitar Masjid Nabawi ini didominasi oleh bangunan-bangunan mid-rise dengan gaya arsitektur timur-tengah yang membuat identitas kawasan ini semakin kuat dan memberikan pengalaman ruang yang berbeda. Sebagian besar bangunan-bangunan tersebut adalah hotel dan penginapan yang tersusun dalam blok-blok yang di antaranya terdapat boulevard-boulevard menuju pintu masuk Masjid Nabawi. Ruang-ruang di antara bangunan tersebut menjadi kunci hidupnya kawasan ini. Boulevard-boulevard tersebut berfungsi sebagai tempat bagi pedagang untuk menjual barang-barang dagangannya, mulai dari cinderamata hingga kebutuhan sehari-hari. Pedagang ini lah yang kemudian membuat suasana kawasan boulevard ini menjadi lebih hidup, terutama pada saat jam-jam selesai ibadah sholat 5 waktu.

Pintu Utama Masjid Nabawi

Menurut saya, Kota Madinah memiliki citra kota yang nyaman untuk dihuni bagi kaum Muslim. Berbeda dengan Kota Mekkah yang mayoritas penduduknya bersikap kasar, penduduk Kota Madinah lebih bersikap ramah dan sopan kepada pengunjung. Terlepas dari sambutan hangat tersebut, konsep pusat kehidupan yang dekat dengan tempat ibadah membuat Kota Madinah menjadi tempat tinggal yang ideal bagi kaum Muslim yang benar-benar ingin hidup dekat dengan Tuhan. Jarak tempat tinggal yang dekat dengan Masjid Nabawi ditambah dengan keberadaan crowd attractor yang terdapat di setiap ruas-ruas jalan serta suhu udara yang nyaman pada bulan-bulan tertentu, tentunya memberikan nilai positif terhadap konsep kehidupan tersebut.